Senin, 25 Juni 2012

Adalah tentangmu

     Sempat, matahari hanya sekelibat melewati mataku  saat pagi hari. Sempat pula waktu ingin cepat berlalu ketika ku terlelap tidur. Aku, sesosok pria yang tak terlalu usang untuk berusaha tumbuh menjadi sosok pria dewasa, yang tak banyak telah menyaksikan berbagai cerita kisah hidup, entah dari media apapun itu, bahkan kucermati  langsung.
    Masa SMA telah kulewati, masa dimana kita akan merasakan segala hal. Tentang; kehidupan, pertemanan, pembelajaran, dan percintaan. Sampai dimana kita mengenal segala rasa yang akan menghiasi kehidupan. Aku pernah merasakan cinta, tentang manisnya, seperti gula, terlalu banyak lalu terkena diabetes. Bahkan pahitnya, seperti debu jalanan yang tak sengaja terhirup,  bahkan tertelan, sembari kau bernafas, begitu sesak dan kau butuh istirahat.
 
    Tapi, entah kapan kita bertemu, di lorong utama tempat biasa seluruh orang melewatinya, kita hanya menatap, lalu lupa. Hingga akhirnya aku menjadikanmu sebagai misteri, sebagai peri malam hari, mennghiasi tiap tanyaku dalam mimpi.
    Aku, yang tak begitu pintar dalam segala hal, mungkin engkau belum tahu. Aku, yang tak begitu royal dalam segala hal berbagi, engkau mungkin belum tahu. Aku, yang akan selalu biasa dalam segala hal, mungkin engkau belum tahu. Tapi aku tahu sedikit tentagmu, yang mungkin bisa mengajariku tentang berbagai hal berharga di dalam hidup ini.
 


    Mungkin aku tidak akan lagi bangun kesiangan karena begadang seharian, atau lupa makan karena asik bermain dengan teman-teman, bila kau ada disampingku. Aku yakin tentangmu, bukan karena perih yang kuharap hilang karenamu, tapi, karena di tiap cerita yang kau diam-diam ceritakan lewat pesan singat sungguh berarti, untukku.
    Jalanku ter-tatih-tatih saat ini, laki-laki remaja yang mencari jati diri. Yang ditinggalkan lubang perih yang mengangga oleh seseorang. Tenang, luka itu sudah hilang, entah kapan. Sampai dimana rasaku ingin beranjak segera, mengucap bait-bait kejujuran dari mulutku, yang sadar, dan tak berbau alkohol.
    Pada siang yang terik, kita di teduhkan oleh ranting-ranting cemara kini. Sembari tatapan mata kita mengalihkan entah kemana, kita sadar perlahan. Bahwa cinta datang, pada kita yang saling sendiri. Bahwa angin yang bertiup perlahan menandakan, tiba nanti saat ku genggam tangamu, aku akan berbicara sesuatu  padamu.




"Usangnya diriku dulu. Kini telah tumbuh, menjadi sebatang pohon yang utuh. Tapi tanpa bunga yang berarti untukku. Aku sebatang pohon sendiri di taman ini. Menunggu bunga ini tumbuh. Seketika tumbuh, aku tak mengerti. Kupu-kupu lalu lalang, lebah pencari madu melewatiku, tak hinggap hanya menatap. Sekarang tinggal kau, terbang lalu hinggap, kuharap engkaulah harapan. Menghisap madu dari sariku, lalu engkau tertidur pulas. Sembari bermimpi tentangku..." 
 

Begitu aku mengerti.
Sekarang putusmu mengakhiri setiap kata-kataku tadi....yang semoga berarti untukmu, dari perasaanku tadi.

Jumat, 06 April 2012

Menari

Di teriknya matahari, di basahnya deras hujan, di sejuknya tiupan angin tak kadang ku selalu berpuisi sendiri untukmu di terjalnya jalanku.
Berbaris-baris titik-titik air di kaca jendela, yang perlahan jatuh membasahi dedaunan, tak kadang ku bersajak sendiri untukmu di sepinya soreku.
Malam ini begitu sepi, rembulan seorang diri, bintang-bintang bersembunyi dibalik ombak-ombak awan, tak kadang ku bernyanyi sendiri untukmu di hampaku..

Entah sampai kapan kita bersama, sampai kapan aku akan menyanyikan lagu-lagu untukmu sebelum tidur, sampai kapan kenangan itu akan tersimpan saat, peluk erat tubuhmu yang menahan sakit saat jarum jahit melukai ujung jarimu , dan sampai kapan kita akan saling mengajari tentang arti hidup. Dan sampai akhirnya kita akan sama-sama belajar untuk mengucapkan selamat tinggal.

Dan tetaplah menari,
Di teriknya matahari,
Di derasnya hujan,
Di pelukan kesepian


Selasa, 03 April 2012

Sebuah lagu ciptaan penyanyi legendaris Bob Marley ini yang pastinya sudah tak asing lagi untuk telinga seluruh dunia ini. Sedari dulu lagu ini memang tiada bosan-bosannya untuk terus menerus didengarkan. Terlebih lagi ketika waktunya untuk bersantai ria ataupun menyendiri. Sampai puluhan kali diputar untuk didengarkan tak pernah saya bosan untuk meresapi tiap-tiap kata-katanya. "Saya tidak ingin sia-sia menunggu cintamu", kira-kira seperti itu penggalan lirik dan judul yang dilantunkan hampir di tiap baitnya.



I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love.
From the very first time I rest my eyes on you, girl,
My heart says follow t'rough.
But I know, now, that I'm way down on your line,
But the waitin' feel is fine:
So don't treat me like a puppet on a string,
'Cause I know I have to do my thing.
Don't talk to me as if you think I'm dumb;
I wanna know when you're gonna come - soon.
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love,
'Cause if summer is here,
I'm still waiting there;
Winter is here,
And I'm still waiting there.
---
[Guitar Solo]
---
Like I said:
It's been three years since I'm knockin' on your door,
And I still can knock some more:
Ooh girl, ooh girl, is it feasible?
I wanna know now, for I to knock some more.
Ya see, in life I know there's lots of grief,
But your love is my relief:
Tears in my eyes burn - tears in my eyes burn
While I'm waiting - while I'm waiting for my turn,
See!


I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;I don't wanna wait in vain for your love, oh!
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna wait in vain.
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna wait in vain.
No, I don't wanna (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna wait in vain) -
No I - no I (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't
wanna - I don't wanna wait in vain) -
No, no-no, I, no, I (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna wait in vain) -
It's your love that I'm waiting on (I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna wait in vain);
It's me love that you're running from.
It's Jah love that I'm waiting on (I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna wait in vain);
It's me love that you're running from.

Minggu, 01 April 2012

Kamu aku abadikan

"Beberapa menit yang lalu baru saja kau mengucapkan selamat malam padaku. Tapi di kepalaku masih saja terus mengingat cerita-cerita yang kau bagi denganku. Entah seberapa berharganya kah cerita ini untukmu, tapi setelah kau berbaginya padaku, aku yakin kau dapat tidur nyenyak malam ini".

Dia adalah Melati, seorang perempuan yang kukenal baik, sangat rajin dengan tugas sekolah, dan dia adalah siswi terpintar di kelas, dan juga parasnya yang cantik selalu dapat menarik perhatian semua anak laki-laki di sekolah. Aku hanya cukup memperhatikan semuanya. Sampai aku tau, dia telah lama berkenalan dengan Gilang. Gilang adalah seorang anak laki-laki yang kaya raya, terkenal di sekolahan, tapi sikapnya yang sombong dan angkuh itu membuat  teman-teman sekolahnya kesal&benci kepadanya.
Perasaanku seperti selalu ingin mencari tahu mengapa, seorang Gilang yang mempunyai banyak teman wanita cantik lebih memilih mendekati Melati.
Aku memang bukan siapa-siapa untuk keduanya, maka yasudahlah biarkan mereka saling mengenal ataupun menjalin hubungan.

Beberapa bulan ini tidak pernah Melati sedikitpun terlihat, banyak teman-temannya yang membicarakannya, entah tentang nilainya yang turun drastis, dan pembicaraan tentang Melati yang tak pernah masuk dan tak pernah ada kabar.
Tak pernah sekalipun pesanku pada Melati di jawabnya, tak seperti biasanya dia seperti ini. Dia seperti sudah tak pernah ada, tak ada lagi kabar tentang dirinya.
Sampai tiba pulang sekolah, aku berjalan sendirian di koridor, sampai aku seperti melihat sosok seperti Melati yang sedang duduk sendiri, tanpa ragu aku langsung menghampirinya. Setelah aku duduk tepat di sampingnya, aku bertanya tentang mengapa dia sekarang seperti ini, ku genggam tangannya yang dingin, dan perlahan aku memluknya. Dia hanya terdiam dan perlahan mengeluarkan air matanya. Sontak aku mengeluarkan handuk kecilku untuk sekedar menyeka air matanya. Perlahan dia membuka mulutnya untuk mengucapkan namaku. Aku langsung memeluknya dengan erat, merasakan dingin tubuhnya, dan air mata yang jatuh perlahan-lahan di pundakku. Lalu kutanyakan lagi padanya, apa yang menimpa dirimu ?, dan kenapa kamu seperti ini Melati.

Hampir tiga bulan aku dan Gilang berkenalan, aku tahu bahwa Gilang itu laki-laki yang kurang sopan, memudahkan segalanya dengan uang, suka sekali bermain perempuan, dan segala negatif tentang dirinya. Semua itu hanya aku hiraukan, aku hanya ingin tahu bahwa semua orang itu dapat berubah, sejahat apapun dia.
Sampai hari itu tiba, Hujan deras dan petir yang besar menyambar-nyambar di langit, aku seorang diri sedang berteduh di samping sekolah. Tiba-tiba mobil sedan hitam berhenti tepat di hadapanku, ternyata Gilang yang ingin mengajakku pulang bersamanya.
Dengan tidak enak hati aku naik kedalam mobilnya, aku hanya takut membasahi dalam mobilnya yang begitu mewah itu. Tanpa banyak berbicara Gilang hanya memberiku handuknya. Tapi sepanjang perjalanan tak sepatah katapun di keluarkan dari mulut Gilang. Aku tahu ini bukan jalan untuk menuju kerumahku atau rumah Gilang, aku semakin pucat ketakutan, tapi mengapa...mengapa aku hanya diam dan tak berani menatap wajah Gilang.
Kami berhenti tepat di sebuah Rumah yang tak terlalu besar, dan dipenuhi dengan pohon-pohon cemara yang begitu rindang. Gilang segera turun dan membukakan pintu mobilnya untukku. Tak lama aku turun dan bicara padanya, "mengapa kita kesini ?, jangan macam-macam ya Gil, gue tau lo orang baik, gue mohon anter gue kerumah gue, jangan kesini". Gilang hanya diam, dengan cepat dia menangkap tubuhku ini, ditariknya aku kedalam ruang tamu. Tanpa pikir panjang Gilang menjamaah seluruh tubuhku dengan birahinya seperti 'binatang'.

Seperti hujan badai yang jatuh bertubi-tubi di tubuhku, dan di penuhi luka yang mengangga, begitu perih! perih perasaanku, habis sudah segala kehormatanku.

Aku hanya bisa duduk diam, menangis, dan menangis. Gilangpun memaksaku untuk berpakaian lagi, dan mengatarku untuk pulang.
Entah aku hanya orang bodoh atau tak bisa berbicara, tak bisa aku ceritakan kejadian ini kepada siapapun, mulutku hanya dapat diam terkunci rapat-rapat.
Aku tidak terima dengan perlakuan Gilang, dia jahat kepadaku, dia berbuat hal yang busuk kepadaku, aku ingin membunuhnya. aku ingin sekali menyiksanya, tapi itu hanya omong kosongku. Bagaimanapun aku hanya orang yang lemah.
Malam hari itupun juga aku pergih diam-diam dari rumahku, meninggalkan Ibuku seorang diri yang sedang tidur. Sendirian aku berjalan ke bukit yang sangat aku sukai, disitu aku menangis, dan menangis, menatap bulan yang ikut juga menangis. Tak sadar di pikiranku ini hanyalah sebuah rasa malu yang harus aku tanggung sendiri, dan aku yang aku rasa sudah gila, menjatuhkan tubuhku yang mungil ini ke jurang yang begitu gelap.
Aku tak pernah ingin menyakiti siapapun, kamu ataupun Gilang yang sudah menyakitiku, tapi aku hanya ingin, semua orang yang kucintai dapat menjaga dirinya, agar, tidak mendapati hal yang begitu hina seperti diriku.

"krriinggg...krriiingggg" Bel sekolah berbunyi dengan keras di kepalaku. Setelah aku sadar aku telah berbicara dengan arwah Melati, bukan sepenuhnya Melati. Perlahan aku meninggalkan koridor dengan kesedihan yang begitu dalam. Rasa takut tentang arwah atau hantu yang terus menggerogotiku ku lupakan begitu saja.

Dua minggu setelah kuceritakan kejadian ini dengan teman-teman. Kemudian pada akhirnya jasad Melati di temukan, jatuh di jurang yang begitu dalam dekat rumahnya. Dan setelah kabar itu Gilangpun akhirnya dikeluarkan dari sekolah ini. Aku hanya berharap untuknya, Melati bisa tenang di sisiNya, dan dapat memaafkan Gilang yang sudah melukainya.

Kematian


Tentang kematian yang di tulis oleh teman saya Vertex Patra:

Kematian datang menjelang, membelai hari yang semakin habis masanya, seperti kekasih pelengkap jiwa, maka diladang penuaian kematian adalah pelengkap hidup, sampaikan salam penyesalanku kepada Tuhan, jika ia datang menjelang sebelum suntuk umur, diberkatilah dia seperti mentari dicakrawala yang melengkapi hidup.

Kematian adalah mayang kecil, langkah ringan dengan lari kecil, digandarnya beban takdir, dia datang dan menjulurkan tangannya, belum lepas belengu popy yang harum, dia datang menjulurkan tangannya, sampaikan salam penyesalanku untuk Tuhan segala kehadiranku adalah racun yang pahit, belum suntuk umur dia datang menjelang, oh mayangku Kematian adalah takdir yang menyenangkan, lirih dirasakan, kelu dilakukan.

Sabtu, 31 Maret 2012

Tentang Dua Kata Yang Tediri Dari Sembilan Huruf


     Beberapa dari teman-temanku pernah bercerita tentangnya. Tentang dua kata yang terdiri dari sembilan huruf. Dengan alur cerita yang berbeda pula mereka bercerita, ada yang dimulai dengan P; patahan-patahan kue yang jatuh saat mereka makan malam, ada yang dimulai dengan A; awan-awan yang begitu cepat melewati mereka berdua saat bersepedaan, ada yang dimulai dengan huruf T; tentang keceriaan yang mereka bagi bersama, ada yang dimulai dengan huruf A lagi; asap rokok yang dikeluarkan dari mulutnya membentuk lingkaran, dan kita bercanda semalaman, ada pula yang memulainya dengan H; hari-harinya semakin indah semenjak bersamanya.

     Tapi tak banyak dari mereka yang bercerita tentang H lagi; hari-harinya begitu kelabu, saat kekasihnya sudah tidak cinta kepadanya lagi, hmm..ada yang bercerita dengan A lagi; alangkah indahnya bila aku menggengam tangannya sekarang, dan mengecup keningnya, ada yang bercerita dengan T lagi; tentang kekasihku yang selingkuh dihadapanku, dan tentang I; inilah yang kusebut patah hati.

     Banyak dari mereka yang sulit untuk melupakan atau menyimpan cerita mereka, banyak juga dari mereka yang sudah dapat menghapus cerita mereka dari ingatannya. Entah harus ku sebut apa dia, 'dua kata yang terdiri dari sembilan huruf' ini, apakah kenangan ataukah nestapa. 

Entah akan berhenti sampai mana cerita mereka, setiap abjadnya adalah awal mula cerita mereka, yang paling dikenang dan yang ingin lekas mereka buang.

Tentang Daun Yang Jatuh di Tubuhmu


Kusebut dia kekasih, sebagai pelita yang menghiasi hatiku setiap hari.

Ris, angin begitu kencang menerpa parasmu sore ini, masih mau kamu aku boncengi sampai tujuan kita ?

Delapan burung gereja menggali-gali tanah mencari cacing di halaman rumahmu, mencari-cari hingga rahangnya patah Ris.

Masih mau kamu tahu harta yang ada di tanah kesederhanaanku Ris ?

Ris, telah sampai kita di rumahmu

Dedaunan yang menguning jatuh perlahan ditubuhmu, kuambil perlahan agar tak sedikitpun mengotori gaun eropa yang kamu kenakan Ris.

Dengan cepat tanganmu menyambut tanganku, perlahan menaruhnya  di dekat bibirmu. Yang begitu merah merekah Ris.

Sejengkal sekarang jarak tubuh kita, memeluk tubuhku yang lusuh, dekil dan bau tengik.

Terasa makin erat pelukmu, bersandar dagumu dipundakku yang entah tak terasa lagi pilu. Bisikmu "Kang, dedaunan yang jatuh tepat di tubuhku bukanlah kebetulan, tapi takdir Kang, seperti embun tiap pagi yang tak selalu ada di dedaunan yang hijau, kadang daun matipun di singahi embun yang mewangi pagi Kang. Seperti itulah aku, tak usah Kang kamu lihat darimana aku dan siapa aku, inginku sederhana seperti cinta kita, yang jatuh bersama ketanah dan tumbuh bersama.

Sebuah Cerita Tentang Gelap


Di ruang gelap, birahiku terjebak. Menggigil sambil merangkak mencari tungku yang hangat di ruang yang gelap. Sosok yang fana dalam benak, kucari dia sampai ujung cakrawala, dan tak menemu juga dirinya. Di tiap awan-awan diangkasa ku temukan ketidakpastian. Lebih baik ku merebah lalu diam di lautan yang langitnya sedang purnama. Agar tubuhku perlahan jatuh ke dasar lautan. Yang gelap. Paginya bangkaiku mengapung di lautan, induk-iduk gagak yang kelaparan mencabik dada hingga kepala, mencari darah beku dan dagingku untuk dilumat. Sampai mereka kenyang, aku kembali ke dasar lautan, dengan sisa tulang belulang di dasar yang gelap. Aku lelap dalam gelap.
Fajar terbit dari barat, sudahlah aku yang kiamat di lumat hewan pengerat. "Bila senang, caci aku di hadapan Ilahi, agar murkaku tertanam, lalu ku ledakan di dasar lautan". Semoga cinta-cinta terbang berdatangan, menjemput sisa belulangku, rusukku yang hilang kembali pulang.

Dimanakah kamu ?
Sendirian aku menyaksikan hujan
Dimanakah kamu ?
Sendirian aku menyeruput kopi dan membaca puisi tentang kamu
Dimanakah kamu ?

Terima Kasihku Untuk Selamanya


Untuk Teman-Temanku,

Masih ingatkah masalah kita bersama ?, masih ingatkah kenakalan yang kita laukukan ?, masih ingatkah candaan yang biasa kalian lakukan ?, bila kalian masih ingat terusalah rekam di ingatan kalian sampai akhir hayat kalian.

Sudah hampir tiga tahun kita bersama, sudah hampir habis pelajaran yang kita pelajari bersama-sama. Sudah tidak akan adalagi dering keras bel masuk sekolah dan ocehan guru depan gerbang yang berteriak untuk segera berlari masuk sekolah waktu pagi.

Banyak bukan kenangan yang akan kalian ceritakan sewaktu kita akan bertemu kembali saat 5 atau 10 tahun lagi ?. Teman, janganlah pernah lupa saat-saat kebersamaan kita yang akan menempuh UjianNasional, suatu kebanggan bila dulu kita masuk kesekolah ini bersama lalu lulus kembali bersama-sama.

Seandainya doa-doa kelulusan kita semua dikabulkan olehNya, jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur dan teruslah berdoa. Dan teman-teman, terima kasih telah berbagi kisah hidup kalian denganku, pahit manisnya kadang kita telan bersama, semoga nanti setelah kita lulus tidak akan melupakan satu dengan yang lainnya.

Terima kasih teman-teman.
"Teruslah menjadi pijar yang menerangi cakrawala, tak usah gusar karna sendirian. Karena kami ada untukmu"

Don't Worry For Being Alone


Suratku kutujukan pada siapa saja yang sedang sendirian, menggugurkan waktu berharganya untuk ketidak pastian.

Disini hujan deras, begitu juga hatiku yang selalu dingin dan mataku berhujan. Disini aku hanya berteman dengan kesepian, meringkuk di kasur ataupun cuman duduk dihalaman depan untuk menyaksikan hujan. Kadang kalau aku menginginkan hiburan hanya duduk menonton tv atau mendengarkan siaran radio di kamar sendirian. Tidak cukupkah kesendirianku ini ?, yang tiap harinya hanya termanggu menunggu hujan reda. Bodoh sekali aku dulu ya. Dan aku belajar bahwa sekarang aku mengerti bahwa kesendirian itu bukanlah akhir segalanya.

Aku sudah mengalami yang namanya di terpa badai, di telan ombak, dan kemarau yang panjang dalam percintaan. Tak mungkin aku sekarang dapat seperti ini. Aku merasa beruntung, dapat merasakan segala suka dukanya. Aku merasa bahagia saat suka hadir, dan aku merasa lega saat segala duka lepas begitu saja.
Memang segala kenangan tak dapat lekas dihapus begitu saja. Perlahan-lahan sakit menggerogoti habis pikiran dan hati yanng lelah. Itu bila kamu tidak mau lepas dari kenangan yang buruk. Tak akan ada lagi yang memikirkanmu, selain dirimu sendiri.

Dan aku akan terus hadir di setiap hujanmu, me-ninabobokanmu saat galau mendera agar tak ada lagi air mata.

Untuk Sang Waktu


Bunyi alarm di handphoneku membangunkanku dari mimpi buruk malam ini. Dengan mata sayu kutulis sebuah pesan; "Selamat pagi." sebuah kata yang kukirimkan kepada dia tepat pukul 6. Hari ini nampaknya ada sesuatu yang berbeda, perasaanku sedikit tidak enak, yasudahlah tak usah gusar karena hari ini masih panjang.
Sudah hampir malam saja, tak ada pesan balasan untukku setelah ucapan "selamat pagi" yang kukirim tadi pagi. Mungkin dia sedang sibuk, atau sedang tidak mau diganggu untuk hari ini.
Sudah seminggu aku tidak lagi mengirimkan kabar, ataupun sekedar berbincang di bbm atau duina maya. Mungkin aku telah menjadi orang egois untuk masalah ini. Sudah hampir berapa lama kita dekat ?, mungkin hampir genap 3 bulan, dan kita juga belum pernah bertemu. Kita saling bertukar cerita dan kenangan. Cukup menyenangkan bukan, kita yang kesepian saling mengisi tapi tidak dengan 'kekasih' ataupun suatu hubungan, kita hanya berteman tapi mungkin kita terlalu dekat dengan percintaan.
Aku tahu, aku seperti memberi harapan kosong yang sulit untuk kamu terima.
Memberikan sebuah harapan itu tidak mudah, kamu tahu itu. Dan bila nanti waktunya tiba, aku akan belajar, belajar dari kesalahanku. Mencoba tidak mengecewakan orang lain dan memaafkan diriku sendiri.
Sebenarnya aku ingin belajar mencintaimu, memikirkanmu tiap hariku. Tapi kali ini sulit. Aku masih terkapar di masa laluku.


"Jikalau telah datang, waktu yang dinanti, jadi dikau sabar menunggu."


Maafkan aku yang telah membuatmu lelah menunggu.

Pesan Untuk Kenanganku


Malam sudah hampir habis,

aku bergegas pulang lalu berganti pakaian. Sesampainya aku menyusuri ruang kamar dan tanpa sengaja menemukan 'masa lalu' di dalam laci mejaku. Hm aku rasa malam ini akan penuh dengan perang tentang perasaan.
Malam sudah hampir habis, yang kuambil dari laci mejaku adalah buku cerita buatanmu yang di berikan untukku dulu, yang sungguh mengundang masa lalu untuk datang malam ini. Halaman demi halamannya adalah sepenggal cerita tentang kita, yang bersama mengisi kesepian.



Halaman pertama.....
Bercerita tentang hari pertama kita bertemu,
Halaman kedua....
Bercerita tentang bagaimana kita menjadi dekat dan mengenal semakin dalam dan menjadikan kita sebagai sepasang kekasih,
Halaman ketiga...
Berisikan kumpulan bon-bon yang kau simpan saat kita selesai makan malam bersama,
Halaman keempat...
Isinya penuh dengan foto-foto tentang kita, dan kita, dan kita
Halaman kelima...
Ini hari paling spesial untukmu, akhirnya kamu berumur 17 tahun, semakin tua ya, dan semoga doa-doa'ku dan doamu di kabulkan olehNya,
Halaman keenam...
Hari-hari kita makin menyenangkan, banyak yang kita lakukan bersama-sama.
Halaman ketujuh...
Kita berdua pergi menyaksikan film terbaru di bioskop yang biasa kita kunjungi, dipertengahan film, tanpa
sengaja kita menemukan kesetiaan, saling menitipkan pesan lewat basahnya kecupan,
Halaman kedelapan...
Hari-hari kita memang sungguh menyenangan, tapi kali ini kita bertengkar, saling menyalahkan tanpa ingin membetulkan dan memaafkan,
Halaman kesembilan...
Waktu terus menggulirkan perasaanku yang kesal denganmu.
Halaman kesepuluh...
Kamu datang tiba-tiba, saat aku acuh denganmu. Dengan wajahmu yang lugu lalu mengucapkan maaf, "kita baikan ya." Lembut ucapmu di belakang kupingku,
Halaman kesebelas....
ini adalah halaman terakhir disini, isinya...hm berisikan foto kita berdua yang sedang gelisah, menahan gelak tawa agar tak merusak pose di kamera.



Tak sadar pagipun hampir habis, matahari pagipun harus kembali menari-nari untuk orang-orang. Aku sendiri tak habis pikir, mengapa kenangan harus datang kali ini. Setelah sekian lama dia pergi dan berpesan enggan pulang. Hm seharusnya dia tahu betapa aku menginginkan malam yg putih, sunyi, dengan kelambu suatu saat nanti. Tapi dia sudah pergi dan tak mau kembali.



Kenanganku tanpa harus kusebut namamu, "bahagialah dengan kenyataanmu sekarang. Berikanlah
bintangmu pada gelapnya langit kala malam, agar aku tau itu kamu yang sedang kesepian."