Sabtu, 31 Maret 2012
Tentang Daun Yang Jatuh di Tubuhmu
Kusebut dia kekasih, sebagai pelita yang menghiasi hatiku setiap hari.
Ris, angin begitu kencang menerpa parasmu sore ini, masih mau kamu aku boncengi sampai tujuan kita ?
Delapan burung gereja menggali-gali tanah mencari cacing di halaman rumahmu, mencari-cari hingga rahangnya patah Ris.
Masih mau kamu tahu harta yang ada di tanah kesederhanaanku Ris ?
Ris, telah sampai kita di rumahmu
Dedaunan yang menguning jatuh perlahan ditubuhmu, kuambil perlahan agar tak sedikitpun mengotori gaun eropa yang kamu kenakan Ris.
Dengan cepat tanganmu menyambut tanganku, perlahan menaruhnya di dekat bibirmu. Yang begitu merah merekah Ris.
Sejengkal sekarang jarak tubuh kita, memeluk tubuhku yang lusuh, dekil dan bau tengik.
Terasa makin erat pelukmu, bersandar dagumu dipundakku yang entah tak terasa lagi pilu. Bisikmu "Kang, dedaunan yang jatuh tepat di tubuhku bukanlah kebetulan, tapi takdir Kang, seperti embun tiap pagi yang tak selalu ada di dedaunan yang hijau, kadang daun matipun di singahi embun yang mewangi pagi Kang. Seperti itulah aku, tak usah Kang kamu lihat darimana aku dan siapa aku, inginku sederhana seperti cinta kita, yang jatuh bersama ketanah dan tumbuh bersama.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar