Minggu, 20 Januari 2013

"Di tiap kata; huruf atau angka, yang berbaris di linimasa.Rindu berguguran, di halaman yang rinai; teduh meneduhkan."

Pratikto Dwi Rahardjo

Senin, 25 Juni 2012

Adalah tentangmu

     Sempat, matahari hanya sekelibat melewati mataku  saat pagi hari. Sempat pula waktu ingin cepat berlalu ketika ku terlelap tidur. Aku, sesosok pria yang tak terlalu usang untuk berusaha tumbuh menjadi sosok pria dewasa, yang tak banyak telah menyaksikan berbagai cerita kisah hidup, entah dari media apapun itu, bahkan kucermati  langsung.
    Masa SMA telah kulewati, masa dimana kita akan merasakan segala hal. Tentang; kehidupan, pertemanan, pembelajaran, dan percintaan. Sampai dimana kita mengenal segala rasa yang akan menghiasi kehidupan. Aku pernah merasakan cinta, tentang manisnya, seperti gula, terlalu banyak lalu terkena diabetes. Bahkan pahitnya, seperti debu jalanan yang tak sengaja terhirup,  bahkan tertelan, sembari kau bernafas, begitu sesak dan kau butuh istirahat.
 
    Tapi, entah kapan kita bertemu, di lorong utama tempat biasa seluruh orang melewatinya, kita hanya menatap, lalu lupa. Hingga akhirnya aku menjadikanmu sebagai misteri, sebagai peri malam hari, mennghiasi tiap tanyaku dalam mimpi.
    Aku, yang tak begitu pintar dalam segala hal, mungkin engkau belum tahu. Aku, yang tak begitu royal dalam segala hal berbagi, engkau mungkin belum tahu. Aku, yang akan selalu biasa dalam segala hal, mungkin engkau belum tahu. Tapi aku tahu sedikit tentagmu, yang mungkin bisa mengajariku tentang berbagai hal berharga di dalam hidup ini.
 


    Mungkin aku tidak akan lagi bangun kesiangan karena begadang seharian, atau lupa makan karena asik bermain dengan teman-teman, bila kau ada disampingku. Aku yakin tentangmu, bukan karena perih yang kuharap hilang karenamu, tapi, karena di tiap cerita yang kau diam-diam ceritakan lewat pesan singat sungguh berarti, untukku.
    Jalanku ter-tatih-tatih saat ini, laki-laki remaja yang mencari jati diri. Yang ditinggalkan lubang perih yang mengangga oleh seseorang. Tenang, luka itu sudah hilang, entah kapan. Sampai dimana rasaku ingin beranjak segera, mengucap bait-bait kejujuran dari mulutku, yang sadar, dan tak berbau alkohol.
    Pada siang yang terik, kita di teduhkan oleh ranting-ranting cemara kini. Sembari tatapan mata kita mengalihkan entah kemana, kita sadar perlahan. Bahwa cinta datang, pada kita yang saling sendiri. Bahwa angin yang bertiup perlahan menandakan, tiba nanti saat ku genggam tangamu, aku akan berbicara sesuatu  padamu.




"Usangnya diriku dulu. Kini telah tumbuh, menjadi sebatang pohon yang utuh. Tapi tanpa bunga yang berarti untukku. Aku sebatang pohon sendiri di taman ini. Menunggu bunga ini tumbuh. Seketika tumbuh, aku tak mengerti. Kupu-kupu lalu lalang, lebah pencari madu melewatiku, tak hinggap hanya menatap. Sekarang tinggal kau, terbang lalu hinggap, kuharap engkaulah harapan. Menghisap madu dari sariku, lalu engkau tertidur pulas. Sembari bermimpi tentangku..." 
 

Begitu aku mengerti.
Sekarang putusmu mengakhiri setiap kata-kataku tadi....yang semoga berarti untukmu, dari perasaanku tadi.

Jumat, 06 April 2012

Menari

Di teriknya matahari, di basahnya deras hujan, di sejuknya tiupan angin tak kadang ku selalu berpuisi sendiri untukmu di terjalnya jalanku.
Berbaris-baris titik-titik air di kaca jendela, yang perlahan jatuh membasahi dedaunan, tak kadang ku bersajak sendiri untukmu di sepinya soreku.
Malam ini begitu sepi, rembulan seorang diri, bintang-bintang bersembunyi dibalik ombak-ombak awan, tak kadang ku bernyanyi sendiri untukmu di hampaku..

Entah sampai kapan kita bersama, sampai kapan aku akan menyanyikan lagu-lagu untukmu sebelum tidur, sampai kapan kenangan itu akan tersimpan saat, peluk erat tubuhmu yang menahan sakit saat jarum jahit melukai ujung jarimu , dan sampai kapan kita akan saling mengajari tentang arti hidup. Dan sampai akhirnya kita akan sama-sama belajar untuk mengucapkan selamat tinggal.

Dan tetaplah menari,
Di teriknya matahari,
Di derasnya hujan,
Di pelukan kesepian


Selasa, 03 April 2012

Sebuah lagu ciptaan penyanyi legendaris Bob Marley ini yang pastinya sudah tak asing lagi untuk telinga seluruh dunia ini. Sedari dulu lagu ini memang tiada bosan-bosannya untuk terus menerus didengarkan. Terlebih lagi ketika waktunya untuk bersantai ria ataupun menyendiri. Sampai puluhan kali diputar untuk didengarkan tak pernah saya bosan untuk meresapi tiap-tiap kata-katanya. "Saya tidak ingin sia-sia menunggu cintamu", kira-kira seperti itu penggalan lirik dan judul yang dilantunkan hampir di tiap baitnya.



I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love.
From the very first time I rest my eyes on you, girl,
My heart says follow t'rough.
But I know, now, that I'm way down on your line,
But the waitin' feel is fine:
So don't treat me like a puppet on a string,
'Cause I know I have to do my thing.
Don't talk to me as if you think I'm dumb;
I wanna know when you're gonna come - soon.
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love,
'Cause if summer is here,
I'm still waiting there;
Winter is here,
And I'm still waiting there.
---
[Guitar Solo]
---
Like I said:
It's been three years since I'm knockin' on your door,
And I still can knock some more:
Ooh girl, ooh girl, is it feasible?
I wanna know now, for I to knock some more.
Ya see, in life I know there's lots of grief,
But your love is my relief:
Tears in my eyes burn - tears in my eyes burn
While I'm waiting - while I'm waiting for my turn,
See!


I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;I don't wanna wait in vain for your love, oh!
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna wait in vain.
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna wait in vain.
No, I don't wanna (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna wait in vain) -
No I - no I (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't
wanna - I don't wanna wait in vain) -
No, no-no, I, no, I (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna wait in vain) -
It's your love that I'm waiting on (I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna wait in vain);
It's me love that you're running from.
It's Jah love that I'm waiting on (I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna wait in vain);
It's me love that you're running from.

Minggu, 01 April 2012

Kamu aku abadikan

"Beberapa menit yang lalu baru saja kau mengucapkan selamat malam padaku. Tapi di kepalaku masih saja terus mengingat cerita-cerita yang kau bagi denganku. Entah seberapa berharganya kah cerita ini untukmu, tapi setelah kau berbaginya padaku, aku yakin kau dapat tidur nyenyak malam ini".

Dia adalah Melati, seorang perempuan yang kukenal baik, sangat rajin dengan tugas sekolah, dan dia adalah siswi terpintar di kelas, dan juga parasnya yang cantik selalu dapat menarik perhatian semua anak laki-laki di sekolah. Aku hanya cukup memperhatikan semuanya. Sampai aku tau, dia telah lama berkenalan dengan Gilang. Gilang adalah seorang anak laki-laki yang kaya raya, terkenal di sekolahan, tapi sikapnya yang sombong dan angkuh itu membuat  teman-teman sekolahnya kesal&benci kepadanya.
Perasaanku seperti selalu ingin mencari tahu mengapa, seorang Gilang yang mempunyai banyak teman wanita cantik lebih memilih mendekati Melati.
Aku memang bukan siapa-siapa untuk keduanya, maka yasudahlah biarkan mereka saling mengenal ataupun menjalin hubungan.

Beberapa bulan ini tidak pernah Melati sedikitpun terlihat, banyak teman-temannya yang membicarakannya, entah tentang nilainya yang turun drastis, dan pembicaraan tentang Melati yang tak pernah masuk dan tak pernah ada kabar.
Tak pernah sekalipun pesanku pada Melati di jawabnya, tak seperti biasanya dia seperti ini. Dia seperti sudah tak pernah ada, tak ada lagi kabar tentang dirinya.
Sampai tiba pulang sekolah, aku berjalan sendirian di koridor, sampai aku seperti melihat sosok seperti Melati yang sedang duduk sendiri, tanpa ragu aku langsung menghampirinya. Setelah aku duduk tepat di sampingnya, aku bertanya tentang mengapa dia sekarang seperti ini, ku genggam tangannya yang dingin, dan perlahan aku memluknya. Dia hanya terdiam dan perlahan mengeluarkan air matanya. Sontak aku mengeluarkan handuk kecilku untuk sekedar menyeka air matanya. Perlahan dia membuka mulutnya untuk mengucapkan namaku. Aku langsung memeluknya dengan erat, merasakan dingin tubuhnya, dan air mata yang jatuh perlahan-lahan di pundakku. Lalu kutanyakan lagi padanya, apa yang menimpa dirimu ?, dan kenapa kamu seperti ini Melati.

Hampir tiga bulan aku dan Gilang berkenalan, aku tahu bahwa Gilang itu laki-laki yang kurang sopan, memudahkan segalanya dengan uang, suka sekali bermain perempuan, dan segala negatif tentang dirinya. Semua itu hanya aku hiraukan, aku hanya ingin tahu bahwa semua orang itu dapat berubah, sejahat apapun dia.
Sampai hari itu tiba, Hujan deras dan petir yang besar menyambar-nyambar di langit, aku seorang diri sedang berteduh di samping sekolah. Tiba-tiba mobil sedan hitam berhenti tepat di hadapanku, ternyata Gilang yang ingin mengajakku pulang bersamanya.
Dengan tidak enak hati aku naik kedalam mobilnya, aku hanya takut membasahi dalam mobilnya yang begitu mewah itu. Tanpa banyak berbicara Gilang hanya memberiku handuknya. Tapi sepanjang perjalanan tak sepatah katapun di keluarkan dari mulut Gilang. Aku tahu ini bukan jalan untuk menuju kerumahku atau rumah Gilang, aku semakin pucat ketakutan, tapi mengapa...mengapa aku hanya diam dan tak berani menatap wajah Gilang.
Kami berhenti tepat di sebuah Rumah yang tak terlalu besar, dan dipenuhi dengan pohon-pohon cemara yang begitu rindang. Gilang segera turun dan membukakan pintu mobilnya untukku. Tak lama aku turun dan bicara padanya, "mengapa kita kesini ?, jangan macam-macam ya Gil, gue tau lo orang baik, gue mohon anter gue kerumah gue, jangan kesini". Gilang hanya diam, dengan cepat dia menangkap tubuhku ini, ditariknya aku kedalam ruang tamu. Tanpa pikir panjang Gilang menjamaah seluruh tubuhku dengan birahinya seperti 'binatang'.

Seperti hujan badai yang jatuh bertubi-tubi di tubuhku, dan di penuhi luka yang mengangga, begitu perih! perih perasaanku, habis sudah segala kehormatanku.

Aku hanya bisa duduk diam, menangis, dan menangis. Gilangpun memaksaku untuk berpakaian lagi, dan mengatarku untuk pulang.
Entah aku hanya orang bodoh atau tak bisa berbicara, tak bisa aku ceritakan kejadian ini kepada siapapun, mulutku hanya dapat diam terkunci rapat-rapat.
Aku tidak terima dengan perlakuan Gilang, dia jahat kepadaku, dia berbuat hal yang busuk kepadaku, aku ingin membunuhnya. aku ingin sekali menyiksanya, tapi itu hanya omong kosongku. Bagaimanapun aku hanya orang yang lemah.
Malam hari itupun juga aku pergih diam-diam dari rumahku, meninggalkan Ibuku seorang diri yang sedang tidur. Sendirian aku berjalan ke bukit yang sangat aku sukai, disitu aku menangis, dan menangis, menatap bulan yang ikut juga menangis. Tak sadar di pikiranku ini hanyalah sebuah rasa malu yang harus aku tanggung sendiri, dan aku yang aku rasa sudah gila, menjatuhkan tubuhku yang mungil ini ke jurang yang begitu gelap.
Aku tak pernah ingin menyakiti siapapun, kamu ataupun Gilang yang sudah menyakitiku, tapi aku hanya ingin, semua orang yang kucintai dapat menjaga dirinya, agar, tidak mendapati hal yang begitu hina seperti diriku.

"krriinggg...krriiingggg" Bel sekolah berbunyi dengan keras di kepalaku. Setelah aku sadar aku telah berbicara dengan arwah Melati, bukan sepenuhnya Melati. Perlahan aku meninggalkan koridor dengan kesedihan yang begitu dalam. Rasa takut tentang arwah atau hantu yang terus menggerogotiku ku lupakan begitu saja.

Dua minggu setelah kuceritakan kejadian ini dengan teman-teman. Kemudian pada akhirnya jasad Melati di temukan, jatuh di jurang yang begitu dalam dekat rumahnya. Dan setelah kabar itu Gilangpun akhirnya dikeluarkan dari sekolah ini. Aku hanya berharap untuknya, Melati bisa tenang di sisiNya, dan dapat memaafkan Gilang yang sudah melukainya.

Kematian


Tentang kematian yang di tulis oleh teman saya Vertex Patra:

Kematian datang menjelang, membelai hari yang semakin habis masanya, seperti kekasih pelengkap jiwa, maka diladang penuaian kematian adalah pelengkap hidup, sampaikan salam penyesalanku kepada Tuhan, jika ia datang menjelang sebelum suntuk umur, diberkatilah dia seperti mentari dicakrawala yang melengkapi hidup.

Kematian adalah mayang kecil, langkah ringan dengan lari kecil, digandarnya beban takdir, dia datang dan menjulurkan tangannya, belum lepas belengu popy yang harum, dia datang menjulurkan tangannya, sampaikan salam penyesalanku untuk Tuhan segala kehadiranku adalah racun yang pahit, belum suntuk umur dia datang menjelang, oh mayangku Kematian adalah takdir yang menyenangkan, lirih dirasakan, kelu dilakukan.

Sabtu, 31 Maret 2012

Tentang Dua Kata Yang Tediri Dari Sembilan Huruf


     Beberapa dari teman-temanku pernah bercerita tentangnya. Tentang dua kata yang terdiri dari sembilan huruf. Dengan alur cerita yang berbeda pula mereka bercerita, ada yang dimulai dengan P; patahan-patahan kue yang jatuh saat mereka makan malam, ada yang dimulai dengan A; awan-awan yang begitu cepat melewati mereka berdua saat bersepedaan, ada yang dimulai dengan huruf T; tentang keceriaan yang mereka bagi bersama, ada yang dimulai dengan huruf A lagi; asap rokok yang dikeluarkan dari mulutnya membentuk lingkaran, dan kita bercanda semalaman, ada pula yang memulainya dengan H; hari-harinya semakin indah semenjak bersamanya.

     Tapi tak banyak dari mereka yang bercerita tentang H lagi; hari-harinya begitu kelabu, saat kekasihnya sudah tidak cinta kepadanya lagi, hmm..ada yang bercerita dengan A lagi; alangkah indahnya bila aku menggengam tangannya sekarang, dan mengecup keningnya, ada yang bercerita dengan T lagi; tentang kekasihku yang selingkuh dihadapanku, dan tentang I; inilah yang kusebut patah hati.

     Banyak dari mereka yang sulit untuk melupakan atau menyimpan cerita mereka, banyak juga dari mereka yang sudah dapat menghapus cerita mereka dari ingatannya. Entah harus ku sebut apa dia, 'dua kata yang terdiri dari sembilan huruf' ini, apakah kenangan ataukah nestapa. 

Entah akan berhenti sampai mana cerita mereka, setiap abjadnya adalah awal mula cerita mereka, yang paling dikenang dan yang ingin lekas mereka buang.