Senin, 25 Juni 2012

Adalah tentangmu

     Sempat, matahari hanya sekelibat melewati mataku  saat pagi hari. Sempat pula waktu ingin cepat berlalu ketika ku terlelap tidur. Aku, sesosok pria yang tak terlalu usang untuk berusaha tumbuh menjadi sosok pria dewasa, yang tak banyak telah menyaksikan berbagai cerita kisah hidup, entah dari media apapun itu, bahkan kucermati  langsung.
    Masa SMA telah kulewati, masa dimana kita akan merasakan segala hal. Tentang; kehidupan, pertemanan, pembelajaran, dan percintaan. Sampai dimana kita mengenal segala rasa yang akan menghiasi kehidupan. Aku pernah merasakan cinta, tentang manisnya, seperti gula, terlalu banyak lalu terkena diabetes. Bahkan pahitnya, seperti debu jalanan yang tak sengaja terhirup,  bahkan tertelan, sembari kau bernafas, begitu sesak dan kau butuh istirahat.
 
    Tapi, entah kapan kita bertemu, di lorong utama tempat biasa seluruh orang melewatinya, kita hanya menatap, lalu lupa. Hingga akhirnya aku menjadikanmu sebagai misteri, sebagai peri malam hari, mennghiasi tiap tanyaku dalam mimpi.
    Aku, yang tak begitu pintar dalam segala hal, mungkin engkau belum tahu. Aku, yang tak begitu royal dalam segala hal berbagi, engkau mungkin belum tahu. Aku, yang akan selalu biasa dalam segala hal, mungkin engkau belum tahu. Tapi aku tahu sedikit tentagmu, yang mungkin bisa mengajariku tentang berbagai hal berharga di dalam hidup ini.
 


    Mungkin aku tidak akan lagi bangun kesiangan karena begadang seharian, atau lupa makan karena asik bermain dengan teman-teman, bila kau ada disampingku. Aku yakin tentangmu, bukan karena perih yang kuharap hilang karenamu, tapi, karena di tiap cerita yang kau diam-diam ceritakan lewat pesan singat sungguh berarti, untukku.
    Jalanku ter-tatih-tatih saat ini, laki-laki remaja yang mencari jati diri. Yang ditinggalkan lubang perih yang mengangga oleh seseorang. Tenang, luka itu sudah hilang, entah kapan. Sampai dimana rasaku ingin beranjak segera, mengucap bait-bait kejujuran dari mulutku, yang sadar, dan tak berbau alkohol.
    Pada siang yang terik, kita di teduhkan oleh ranting-ranting cemara kini. Sembari tatapan mata kita mengalihkan entah kemana, kita sadar perlahan. Bahwa cinta datang, pada kita yang saling sendiri. Bahwa angin yang bertiup perlahan menandakan, tiba nanti saat ku genggam tangamu, aku akan berbicara sesuatu  padamu.




"Usangnya diriku dulu. Kini telah tumbuh, menjadi sebatang pohon yang utuh. Tapi tanpa bunga yang berarti untukku. Aku sebatang pohon sendiri di taman ini. Menunggu bunga ini tumbuh. Seketika tumbuh, aku tak mengerti. Kupu-kupu lalu lalang, lebah pencari madu melewatiku, tak hinggap hanya menatap. Sekarang tinggal kau, terbang lalu hinggap, kuharap engkaulah harapan. Menghisap madu dari sariku, lalu engkau tertidur pulas. Sembari bermimpi tentangku..." 
 

Begitu aku mengerti.
Sekarang putusmu mengakhiri setiap kata-kataku tadi....yang semoga berarti untukmu, dari perasaanku tadi.