"Beberapa menit yang lalu baru saja kau mengucapkan selamat malam padaku. Tapi di kepalaku masih saja terus mengingat cerita-cerita yang kau bagi denganku. Entah seberapa berharganya kah cerita ini untukmu, tapi setelah kau berbaginya padaku, aku yakin kau dapat tidur nyenyak malam ini".
Dia adalah Melati, seorang perempuan yang kukenal baik, sangat rajin dengan tugas sekolah, dan dia adalah siswi terpintar di kelas, dan juga parasnya yang cantik selalu dapat menarik perhatian semua anak laki-laki di sekolah. Aku hanya cukup memperhatikan semuanya. Sampai aku tau, dia telah lama berkenalan dengan Gilang. Gilang adalah seorang anak laki-laki yang kaya raya, terkenal di sekolahan, tapi sikapnya yang sombong dan angkuh itu membuat teman-teman sekolahnya kesal&benci kepadanya.
Perasaanku seperti selalu ingin mencari tahu mengapa, seorang Gilang yang mempunyai banyak teman wanita cantik lebih memilih mendekati Melati.
Aku memang bukan siapa-siapa untuk keduanya, maka yasudahlah biarkan mereka saling mengenal ataupun menjalin hubungan.
Beberapa bulan ini tidak pernah Melati sedikitpun terlihat, banyak teman-temannya yang membicarakannya, entah tentang nilainya yang turun drastis, dan pembicaraan tentang Melati yang tak pernah masuk dan tak pernah ada kabar.
Tak pernah sekalipun pesanku pada Melati di jawabnya, tak seperti biasanya dia seperti ini. Dia seperti sudah tak pernah ada, tak ada lagi kabar tentang dirinya.
Sampai tiba pulang sekolah, aku berjalan sendirian di koridor, sampai aku seperti melihat sosok seperti Melati yang sedang duduk sendiri, tanpa ragu aku langsung menghampirinya. Setelah aku duduk tepat di sampingnya, aku bertanya tentang mengapa dia sekarang seperti ini, ku genggam tangannya yang dingin, dan perlahan aku memluknya. Dia hanya terdiam dan perlahan mengeluarkan air matanya. Sontak aku mengeluarkan handuk kecilku untuk sekedar menyeka air matanya. Perlahan dia membuka mulutnya untuk mengucapkan namaku. Aku langsung memeluknya dengan erat, merasakan dingin tubuhnya, dan air mata yang jatuh perlahan-lahan di pundakku. Lalu kutanyakan lagi padanya, apa yang menimpa dirimu ?, dan kenapa kamu seperti ini Melati.
Hampir tiga bulan aku dan Gilang berkenalan, aku tahu bahwa Gilang itu laki-laki yang kurang sopan, memudahkan segalanya dengan uang, suka sekali bermain perempuan, dan segala negatif tentang dirinya. Semua itu hanya aku hiraukan, aku hanya ingin tahu bahwa semua orang itu dapat berubah, sejahat apapun dia.
Sampai hari itu tiba, Hujan deras dan petir yang besar menyambar-nyambar di langit, aku seorang diri sedang berteduh di samping sekolah. Tiba-tiba mobil sedan hitam berhenti tepat di hadapanku, ternyata Gilang yang ingin mengajakku pulang bersamanya.
Dengan tidak enak hati aku naik kedalam mobilnya, aku hanya takut membasahi dalam mobilnya yang begitu mewah itu. Tanpa banyak berbicara Gilang hanya memberiku handuknya. Tapi sepanjang perjalanan tak sepatah katapun di keluarkan dari mulut Gilang. Aku tahu ini bukan jalan untuk menuju kerumahku atau rumah Gilang, aku semakin pucat ketakutan, tapi mengapa...mengapa aku hanya diam dan tak berani menatap wajah Gilang.
Kami berhenti tepat di sebuah Rumah yang tak terlalu besar, dan dipenuhi dengan pohon-pohon cemara yang begitu rindang. Gilang segera turun dan membukakan pintu mobilnya untukku. Tak lama aku turun dan bicara padanya, "mengapa kita kesini ?, jangan macam-macam ya Gil, gue tau lo orang baik, gue mohon anter gue kerumah gue, jangan kesini". Gilang hanya diam, dengan cepat dia menangkap tubuhku ini, ditariknya aku kedalam ruang tamu. Tanpa pikir panjang Gilang menjamaah seluruh tubuhku dengan birahinya seperti 'binatang'.
Seperti hujan badai yang jatuh bertubi-tubi di tubuhku, dan di penuhi luka yang mengangga, begitu perih! perih perasaanku, habis sudah segala kehormatanku.
Aku hanya bisa duduk diam, menangis, dan menangis. Gilangpun memaksaku untuk berpakaian lagi, dan mengatarku untuk pulang.
Entah aku hanya orang bodoh atau tak bisa berbicara, tak bisa aku ceritakan kejadian ini kepada siapapun, mulutku hanya dapat diam terkunci rapat-rapat.
Aku tidak terima dengan perlakuan Gilang, dia jahat kepadaku, dia berbuat hal yang busuk kepadaku, aku ingin membunuhnya. aku ingin sekali menyiksanya, tapi itu hanya omong kosongku. Bagaimanapun aku hanya orang yang lemah.
Malam hari itupun juga aku pergih diam-diam dari rumahku, meninggalkan Ibuku seorang diri yang sedang tidur. Sendirian aku berjalan ke bukit yang sangat aku sukai, disitu aku menangis, dan menangis, menatap bulan yang ikut juga menangis. Tak sadar di pikiranku ini hanyalah sebuah rasa malu yang harus aku tanggung sendiri, dan aku yang aku rasa sudah gila, menjatuhkan tubuhku yang mungil ini ke jurang yang begitu gelap.
Aku tak pernah ingin menyakiti siapapun, kamu ataupun Gilang yang sudah menyakitiku, tapi aku hanya ingin, semua orang yang kucintai dapat menjaga dirinya, agar, tidak mendapati hal yang begitu hina seperti diriku.
"
krriinggg...krriiingggg" Bel sekolah berbunyi dengan keras di kepalaku. Setelah aku sadar aku telah berbicara dengan arwah Melati, bukan sepenuhnya Melati. Perlahan aku meninggalkan koridor dengan kesedihan yang begitu dalam. Rasa takut tentang arwah atau hantu yang terus menggerogotiku ku lupakan begitu saja.
Dua minggu setelah kuceritakan kejadian ini dengan teman-teman. Kemudian pada akhirnya jasad Melati di temukan, jatuh di jurang yang begitu dalam dekat rumahnya. Dan setelah kabar itu Gilangpun akhirnya dikeluarkan dari sekolah ini. Aku hanya berharap untuknya, Melati bisa tenang di sisiNya, dan dapat memaafkan Gilang yang sudah melukainya.