Sabtu, 31 Maret 2012

Tentang Dua Kata Yang Tediri Dari Sembilan Huruf


     Beberapa dari teman-temanku pernah bercerita tentangnya. Tentang dua kata yang terdiri dari sembilan huruf. Dengan alur cerita yang berbeda pula mereka bercerita, ada yang dimulai dengan P; patahan-patahan kue yang jatuh saat mereka makan malam, ada yang dimulai dengan A; awan-awan yang begitu cepat melewati mereka berdua saat bersepedaan, ada yang dimulai dengan huruf T; tentang keceriaan yang mereka bagi bersama, ada yang dimulai dengan huruf A lagi; asap rokok yang dikeluarkan dari mulutnya membentuk lingkaran, dan kita bercanda semalaman, ada pula yang memulainya dengan H; hari-harinya semakin indah semenjak bersamanya.

     Tapi tak banyak dari mereka yang bercerita tentang H lagi; hari-harinya begitu kelabu, saat kekasihnya sudah tidak cinta kepadanya lagi, hmm..ada yang bercerita dengan A lagi; alangkah indahnya bila aku menggengam tangannya sekarang, dan mengecup keningnya, ada yang bercerita dengan T lagi; tentang kekasihku yang selingkuh dihadapanku, dan tentang I; inilah yang kusebut patah hati.

     Banyak dari mereka yang sulit untuk melupakan atau menyimpan cerita mereka, banyak juga dari mereka yang sudah dapat menghapus cerita mereka dari ingatannya. Entah harus ku sebut apa dia, 'dua kata yang terdiri dari sembilan huruf' ini, apakah kenangan ataukah nestapa. 

Entah akan berhenti sampai mana cerita mereka, setiap abjadnya adalah awal mula cerita mereka, yang paling dikenang dan yang ingin lekas mereka buang.

Tentang Daun Yang Jatuh di Tubuhmu


Kusebut dia kekasih, sebagai pelita yang menghiasi hatiku setiap hari.

Ris, angin begitu kencang menerpa parasmu sore ini, masih mau kamu aku boncengi sampai tujuan kita ?

Delapan burung gereja menggali-gali tanah mencari cacing di halaman rumahmu, mencari-cari hingga rahangnya patah Ris.

Masih mau kamu tahu harta yang ada di tanah kesederhanaanku Ris ?

Ris, telah sampai kita di rumahmu

Dedaunan yang menguning jatuh perlahan ditubuhmu, kuambil perlahan agar tak sedikitpun mengotori gaun eropa yang kamu kenakan Ris.

Dengan cepat tanganmu menyambut tanganku, perlahan menaruhnya  di dekat bibirmu. Yang begitu merah merekah Ris.

Sejengkal sekarang jarak tubuh kita, memeluk tubuhku yang lusuh, dekil dan bau tengik.

Terasa makin erat pelukmu, bersandar dagumu dipundakku yang entah tak terasa lagi pilu. Bisikmu "Kang, dedaunan yang jatuh tepat di tubuhku bukanlah kebetulan, tapi takdir Kang, seperti embun tiap pagi yang tak selalu ada di dedaunan yang hijau, kadang daun matipun di singahi embun yang mewangi pagi Kang. Seperti itulah aku, tak usah Kang kamu lihat darimana aku dan siapa aku, inginku sederhana seperti cinta kita, yang jatuh bersama ketanah dan tumbuh bersama.

Sebuah Cerita Tentang Gelap


Di ruang gelap, birahiku terjebak. Menggigil sambil merangkak mencari tungku yang hangat di ruang yang gelap. Sosok yang fana dalam benak, kucari dia sampai ujung cakrawala, dan tak menemu juga dirinya. Di tiap awan-awan diangkasa ku temukan ketidakpastian. Lebih baik ku merebah lalu diam di lautan yang langitnya sedang purnama. Agar tubuhku perlahan jatuh ke dasar lautan. Yang gelap. Paginya bangkaiku mengapung di lautan, induk-iduk gagak yang kelaparan mencabik dada hingga kepala, mencari darah beku dan dagingku untuk dilumat. Sampai mereka kenyang, aku kembali ke dasar lautan, dengan sisa tulang belulang di dasar yang gelap. Aku lelap dalam gelap.
Fajar terbit dari barat, sudahlah aku yang kiamat di lumat hewan pengerat. "Bila senang, caci aku di hadapan Ilahi, agar murkaku tertanam, lalu ku ledakan di dasar lautan". Semoga cinta-cinta terbang berdatangan, menjemput sisa belulangku, rusukku yang hilang kembali pulang.

Dimanakah kamu ?
Sendirian aku menyaksikan hujan
Dimanakah kamu ?
Sendirian aku menyeruput kopi dan membaca puisi tentang kamu
Dimanakah kamu ?

Terima Kasihku Untuk Selamanya


Untuk Teman-Temanku,

Masih ingatkah masalah kita bersama ?, masih ingatkah kenakalan yang kita laukukan ?, masih ingatkah candaan yang biasa kalian lakukan ?, bila kalian masih ingat terusalah rekam di ingatan kalian sampai akhir hayat kalian.

Sudah hampir tiga tahun kita bersama, sudah hampir habis pelajaran yang kita pelajari bersama-sama. Sudah tidak akan adalagi dering keras bel masuk sekolah dan ocehan guru depan gerbang yang berteriak untuk segera berlari masuk sekolah waktu pagi.

Banyak bukan kenangan yang akan kalian ceritakan sewaktu kita akan bertemu kembali saat 5 atau 10 tahun lagi ?. Teman, janganlah pernah lupa saat-saat kebersamaan kita yang akan menempuh UjianNasional, suatu kebanggan bila dulu kita masuk kesekolah ini bersama lalu lulus kembali bersama-sama.

Seandainya doa-doa kelulusan kita semua dikabulkan olehNya, jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur dan teruslah berdoa. Dan teman-teman, terima kasih telah berbagi kisah hidup kalian denganku, pahit manisnya kadang kita telan bersama, semoga nanti setelah kita lulus tidak akan melupakan satu dengan yang lainnya.

Terima kasih teman-teman.
"Teruslah menjadi pijar yang menerangi cakrawala, tak usah gusar karna sendirian. Karena kami ada untukmu"

Don't Worry For Being Alone


Suratku kutujukan pada siapa saja yang sedang sendirian, menggugurkan waktu berharganya untuk ketidak pastian.

Disini hujan deras, begitu juga hatiku yang selalu dingin dan mataku berhujan. Disini aku hanya berteman dengan kesepian, meringkuk di kasur ataupun cuman duduk dihalaman depan untuk menyaksikan hujan. Kadang kalau aku menginginkan hiburan hanya duduk menonton tv atau mendengarkan siaran radio di kamar sendirian. Tidak cukupkah kesendirianku ini ?, yang tiap harinya hanya termanggu menunggu hujan reda. Bodoh sekali aku dulu ya. Dan aku belajar bahwa sekarang aku mengerti bahwa kesendirian itu bukanlah akhir segalanya.

Aku sudah mengalami yang namanya di terpa badai, di telan ombak, dan kemarau yang panjang dalam percintaan. Tak mungkin aku sekarang dapat seperti ini. Aku merasa beruntung, dapat merasakan segala suka dukanya. Aku merasa bahagia saat suka hadir, dan aku merasa lega saat segala duka lepas begitu saja.
Memang segala kenangan tak dapat lekas dihapus begitu saja. Perlahan-lahan sakit menggerogoti habis pikiran dan hati yanng lelah. Itu bila kamu tidak mau lepas dari kenangan yang buruk. Tak akan ada lagi yang memikirkanmu, selain dirimu sendiri.

Dan aku akan terus hadir di setiap hujanmu, me-ninabobokanmu saat galau mendera agar tak ada lagi air mata.

Untuk Sang Waktu


Bunyi alarm di handphoneku membangunkanku dari mimpi buruk malam ini. Dengan mata sayu kutulis sebuah pesan; "Selamat pagi." sebuah kata yang kukirimkan kepada dia tepat pukul 6. Hari ini nampaknya ada sesuatu yang berbeda, perasaanku sedikit tidak enak, yasudahlah tak usah gusar karena hari ini masih panjang.
Sudah hampir malam saja, tak ada pesan balasan untukku setelah ucapan "selamat pagi" yang kukirim tadi pagi. Mungkin dia sedang sibuk, atau sedang tidak mau diganggu untuk hari ini.
Sudah seminggu aku tidak lagi mengirimkan kabar, ataupun sekedar berbincang di bbm atau duina maya. Mungkin aku telah menjadi orang egois untuk masalah ini. Sudah hampir berapa lama kita dekat ?, mungkin hampir genap 3 bulan, dan kita juga belum pernah bertemu. Kita saling bertukar cerita dan kenangan. Cukup menyenangkan bukan, kita yang kesepian saling mengisi tapi tidak dengan 'kekasih' ataupun suatu hubungan, kita hanya berteman tapi mungkin kita terlalu dekat dengan percintaan.
Aku tahu, aku seperti memberi harapan kosong yang sulit untuk kamu terima.
Memberikan sebuah harapan itu tidak mudah, kamu tahu itu. Dan bila nanti waktunya tiba, aku akan belajar, belajar dari kesalahanku. Mencoba tidak mengecewakan orang lain dan memaafkan diriku sendiri.
Sebenarnya aku ingin belajar mencintaimu, memikirkanmu tiap hariku. Tapi kali ini sulit. Aku masih terkapar di masa laluku.


"Jikalau telah datang, waktu yang dinanti, jadi dikau sabar menunggu."


Maafkan aku yang telah membuatmu lelah menunggu.

Pesan Untuk Kenanganku


Malam sudah hampir habis,

aku bergegas pulang lalu berganti pakaian. Sesampainya aku menyusuri ruang kamar dan tanpa sengaja menemukan 'masa lalu' di dalam laci mejaku. Hm aku rasa malam ini akan penuh dengan perang tentang perasaan.
Malam sudah hampir habis, yang kuambil dari laci mejaku adalah buku cerita buatanmu yang di berikan untukku dulu, yang sungguh mengundang masa lalu untuk datang malam ini. Halaman demi halamannya adalah sepenggal cerita tentang kita, yang bersama mengisi kesepian.



Halaman pertama.....
Bercerita tentang hari pertama kita bertemu,
Halaman kedua....
Bercerita tentang bagaimana kita menjadi dekat dan mengenal semakin dalam dan menjadikan kita sebagai sepasang kekasih,
Halaman ketiga...
Berisikan kumpulan bon-bon yang kau simpan saat kita selesai makan malam bersama,
Halaman keempat...
Isinya penuh dengan foto-foto tentang kita, dan kita, dan kita
Halaman kelima...
Ini hari paling spesial untukmu, akhirnya kamu berumur 17 tahun, semakin tua ya, dan semoga doa-doa'ku dan doamu di kabulkan olehNya,
Halaman keenam...
Hari-hari kita makin menyenangkan, banyak yang kita lakukan bersama-sama.
Halaman ketujuh...
Kita berdua pergi menyaksikan film terbaru di bioskop yang biasa kita kunjungi, dipertengahan film, tanpa
sengaja kita menemukan kesetiaan, saling menitipkan pesan lewat basahnya kecupan,
Halaman kedelapan...
Hari-hari kita memang sungguh menyenangan, tapi kali ini kita bertengkar, saling menyalahkan tanpa ingin membetulkan dan memaafkan,
Halaman kesembilan...
Waktu terus menggulirkan perasaanku yang kesal denganmu.
Halaman kesepuluh...
Kamu datang tiba-tiba, saat aku acuh denganmu. Dengan wajahmu yang lugu lalu mengucapkan maaf, "kita baikan ya." Lembut ucapmu di belakang kupingku,
Halaman kesebelas....
ini adalah halaman terakhir disini, isinya...hm berisikan foto kita berdua yang sedang gelisah, menahan gelak tawa agar tak merusak pose di kamera.



Tak sadar pagipun hampir habis, matahari pagipun harus kembali menari-nari untuk orang-orang. Aku sendiri tak habis pikir, mengapa kenangan harus datang kali ini. Setelah sekian lama dia pergi dan berpesan enggan pulang. Hm seharusnya dia tahu betapa aku menginginkan malam yg putih, sunyi, dengan kelambu suatu saat nanti. Tapi dia sudah pergi dan tak mau kembali.



Kenanganku tanpa harus kusebut namamu, "bahagialah dengan kenyataanmu sekarang. Berikanlah
bintangmu pada gelapnya langit kala malam, agar aku tau itu kamu yang sedang kesepian."