Sabtu, 31 Maret 2012

Sebuah Cerita Tentang Gelap


Di ruang gelap, birahiku terjebak. Menggigil sambil merangkak mencari tungku yang hangat di ruang yang gelap. Sosok yang fana dalam benak, kucari dia sampai ujung cakrawala, dan tak menemu juga dirinya. Di tiap awan-awan diangkasa ku temukan ketidakpastian. Lebih baik ku merebah lalu diam di lautan yang langitnya sedang purnama. Agar tubuhku perlahan jatuh ke dasar lautan. Yang gelap. Paginya bangkaiku mengapung di lautan, induk-iduk gagak yang kelaparan mencabik dada hingga kepala, mencari darah beku dan dagingku untuk dilumat. Sampai mereka kenyang, aku kembali ke dasar lautan, dengan sisa tulang belulang di dasar yang gelap. Aku lelap dalam gelap.
Fajar terbit dari barat, sudahlah aku yang kiamat di lumat hewan pengerat. "Bila senang, caci aku di hadapan Ilahi, agar murkaku tertanam, lalu ku ledakan di dasar lautan". Semoga cinta-cinta terbang berdatangan, menjemput sisa belulangku, rusukku yang hilang kembali pulang.

Dimanakah kamu ?
Sendirian aku menyaksikan hujan
Dimanakah kamu ?
Sendirian aku menyeruput kopi dan membaca puisi tentang kamu
Dimanakah kamu ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar